Selasa, 28 Oktober 2025

Tanah Bukan Hanya Sekedar Ruang Fisik Tempat Manusia Berpijak

Perkenalkan Nama ku Piango, dan ketiga teman ku Azis, Yanto dan Nabire.  Di salah satu perempatan jalan, kami 4 sekawan ini karna sedang hujan memilih berteduh dibawah pohon disudut jalan. Sambil nyeruput kopi yang dibawa Nabire dengan tumblernya serasa dunia tak ada artinya bagi kami. 

Untuk mengisi kekosongan, nyeletuk ku bertanya kepada Nabire yang kebetulan orang papua. “Nabire, bagaimana pandangan mu tentang tanah di kampung mu disana?”, “ menurut kami, Tanah bukan hanya sekedar ruang fisik tempat manusia berpijak, tetapi juga ruang makna yang menyatukan sejarah, budaya, dan spiritualitas manusia dengan alam. Dalam konteks historis dan filosofis, tanah menjadi sumber kehidupan, sumber pengetahuan, dan sumber makna yang membentuk identitas kolektif. Kami hidup dalam kesadaran ekologis yang menempatkan tanah bukan sekadar aset ekonomi, tetapi warisan leluhur yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Melalui sistem adat, ritual pertanian, dan praktik gotong royong, kami menjaga keterhubungan antara manusia, tanah, dan kehidupan sosial secara berkelanjutan”. Jawab Nabire tegas.

Mendengar pernyataan Nabire yang begitu detile menjelaskan pertanyaan dari ku, tiba-tiba Aziz menggumal dari belakang kami, “Namun, paradigma pembangunan modern yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi mulai menyingkirkan pandangan tersebut. Negara bahkan mulai mempertontonkan kebijakan-kebijakan yang sedang menuju kesana.  Eksploitasi sumber daya alam secara massif atas nama investasi, industrialisasi, dan globalisasi mulai menggeser relasi harmonis manusia dengan alam menuju relasi dominatif dan eksploitatif. Alam dilihat semata-mata sebagai komoditas ekonomi, bukan sebagai penopang kehidupan. Pola pikir ini merupakan bentuk internalisasi paradigma kapitalistik global yang sesungguhnya menguntungkan kepentingan elit dan asing melalui penguasaan sumber daya lokal, baik dalam bentuk ekstraksi tambang, privatisasi air, maupun monopoli lahan”. 

Ku kira Yanto hanya ingin mendengar kali ini, rupanya perkiraan ku salah. Tidak tahan, dia juga ingin menambahkan, “Kecenderungan tersebut memperlihatkan gejala ecological imperialism, di mana penguasaan alam menjadi instrumen kontrol sosial, politik, dan ekonomi. Masyarakat lokal kehilangan ruang hidup, kedaulatan ekologis, serta hak untuk menentukan nasib atas tanah yang menjadi bagian dari identitas mereka. Ketika sumber daya alam dikuasai oleh mekanisme pasar dan kepentingan modal transaksional, maka yang hilang bukan hanya kekayaan ekologis, tetapi juga kedaulatan budaya dan keberlanjutan peradaban bangsa”.

“ Oleh karena itu, Reforma Agraria Sejati harus berangkat dari kesadaran politik bahwa kedaulatan atas tanah adalah kedaulatan atas kehidupan itu sendiri. Ia bukan sekadar kebijakan teknokratis, tetapi gerakan pembebasan struktural dari cengkeraman kapitalisme agraria. Pendekatan yang menempatkan tanah sebagai identitas bangsa membuka jalan bagi model pembangunan yang berkeadilan sosial, ekologis, dan berdaulat. Dengan demikian, perjuangan reforma agraria tidak boleh berhenti pada tataran legal-formal, melainkan harus diwujudkan dalam praksis yang menegakkan hak rakyat atas ruang hidupnya agar bangsa ini tidak menjadi penonton di tanahnya sendiri”, Tutup Yanto dengan sambil mengangkat tangan besarnya ke bahu kami, untuk mengingatka kami bahwa hujan sudah mulai reda. 

Sebelum kami melanjutkan perjalanan, pikiran ku tergelitik dengan pesan guru ku beberapa waktu yang lalu , beliau mengingatkan, bahwa Reforma agraria di negeri ini terus mengalami kegagalan karena paradigma yang digunakan masih keliru. Dalam kebijakan negara, makna tanah selalu dipisahkan dari manusia, seolah keduanya adalah entitas yang berbeda. Akibatnya, tanah hanya dipandang dari sisi ekonomi semata. Karena urusan ekonomi dijadikan hal yang paling dominan, penguasaan tanah akhirnya jatuh ke tangan mereka yang memiliki akses ekonomi besar dan dekat dengan kekuasaan. Selama paradigma ini tidak diubah, reforma agraria sejati tidak akan pernah berhasil dan hanya digunakan sebagai narasi kampanye di setiap musim pemilu datang.

Kami Bersiap melanjutkan perjalanan ke salah satu kampung, dimana kampung tersebut sedang benkoflik dengan salah satu perusahaan Perkebunan sawit.

Selasa, 01 Agustus 2017

sebab temu kini hanya sebatas ingin



Untuk seseorang di masa lalu,
Yang entah sekarang bagaimana kabarnya
Yang mungkin juga saat ini tidak mengenalku
Yang melupakanku
Yang dulu pernah mengucap beribu-ribu kata cinta...
Dan yang menyakitiku tanpa sadar,
Aku hanya ingin mengatakan,
“ Terima kasih karena telah mengajariku arti mencintai, arti rasanya diabaikan
Arti rasanya tak pernah dihargai, arti rasanya berjuang,
Berjuang mempertahankan sesuatu yang dulu pernah aku anggap berharga,
Pernah aku anggap sesuatu yang tak pernah bisa aku hilangkan dalam hidupku”
.
Sungguh…
Aku tak pernah menyesal untuk mengenalmu
Karena darimu aku belajar apa itu cinta yang sesungguhnya,
Cinta yang buta, cinta yang tak pernah mau mendengarkan suara logika,
Cinta yang hanya mampu mendengarkan suara hati...
Baru kusadari, sakit hati yang menggrogoti hatiku bukan karena dirimu,
Namun karena diriku yang selama ini terlalu mengharapkanmu, terlalu membuat harapan
dalam ilusi…

Senin, 18 Mei 2015

Pemberian Izin Pengelolaan Hutan Tanpa Kontrol, Satwa Langka Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrana) memberingas.




BENGKULU.-Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrana) merupakan Satwa liar yang termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia (IUCN).
Populasi liar satwa ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 400-500 ekor, terutama hidup di kawasan-kawasan konservasi, seperti taman-taman nasional di Sumatera termasuk TNKS yang ada di Provinsi Bengkulu.

Kucing besar ini mengalami ancaman kehilangan habitat karena daerah sebarannya seperti blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan hutan hujan pegunungan terancam oleh berbagai kegiatan pembukaan hutan, seperti pembukaan lahan pertanian dan perkebunan komersial, kegiatan pertambangan, dan juga perambahan hutan oleh aktivitas pembalakan dan atau pembukaan kebun oleh masyarakat. Karena habitatnya semakin sempit dan berkurang, sering kali sejumlah harimau terpaksa memasuki pemukiman warga. 

Cukup banyak harimau yang dibunuh dan ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia. Kadang-kadang malah sebaliknya, ada juga kucing besar ini yang menyerang bahkan membunuh manusia yang ditemuinya.

Harimau sumatera yang makanannya hanya tergantung pada tempat tinggalnya saja dan seberapa berlimpah mangsanya. Sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mepertahankan populasi mangsa liar yang ada di bawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka makan dapat terjaga.
Harimau sumatera yang terkenal langka dan pemalu, sekarang ini malah menampakkan diri dan bahkan menyerang manusia seperti halnya kasus di Kabupaten Seluma.

“ Ada 57 ekor harimau sumatera, turun gunung atau keluar dari hutan mendekati pemukiman di berbagai wilayah Provinsi Bengkulu” begitu pernyataan yang disampaikan oleh salah seorang Kepala Seksi di Badan Konservasi Sumberdeaya Alam Bengkulu. Lebih tragis lagi, seorang petani di Desa Talang Beringin, Seluma Utara, tewas akibat diserang harimau (22/02/2015).
 
Sepanjang 5 tahun Terakhir, sejak tahun 2007 sampai 2011 tercatat sebanyak 395 konflik manusia dengan Harimau (Panthera tigris sumatrana) di sembilan provinsi disumatra. Diantaranya, Aceh : 106 Kasus, Bengkulu:82 Kasus, Jambi:70 Kasus, Lampung: 47 Kasus, Sumbar: 36 Kasus, Riau:26 Kasus, Ulu Masan Aceh: 15 Kasus, Sumut: 11 Kasusu, Sumsel: 2 kasus. Dari data tersebut, ternyata Provinsi Bengkulu menduduki peringkat ke dua sebagai provinsi yang memiliki konflik manusia dengan Harimau Terbanyak dari provinsi-provinsi yang ada di sumatra.

Masuknya harimau ini kepemukiman warga dan menyerang, mengindikasikan bahwa habitat mereka telah terganggu dan rusak. Secara alamiah, perilaku harimau hanya mencari makan untuk mempertahankan hidup dan berkembang biak untuk kelangsungan generasinya. Harimau mempunyai home range atau kawasan jelajah yang tetap, untuk mencari makan dan bertempat tinggal. Jika pada wilayah jelajahnya ketersediaan makanannya kurang maka harimau ini kemungkinan besar akan keluar untuk mencari makanan.

Hal ini juga di karenakan Pemberian ijin pertambangan, ijin perkebunan, ijin pengusahaan hutan, dan ijin-ijin kegiatan hutan lainnya, dengan luasan sampai ratusan ribu hektar tanpa adanya kontrol. dengan demikian sangat besar kemungkinan berdampak negatif pada berbagai sektor kehidupan. Salah satunya adalah terfragmentnya habitat harimau sumatera.

Rusaknya habitat harimau dan juga habitat mangsanya ini mengakibatkan harimau turun gunung dan mencari mangsa ke daerah pemukiman penduduk atau daerahnya yang diganggu penduduk. Turun gunungnya harimau ini, hanyalah sebagian kecil dari dampak pembangunan di era yang sekarang ini. sungguh tak terhitung banyaknya dampak lain jika pembangunan yang dilakukan tidak berwawasan lingkungan. Oleh karena itu, sudah saatnya kepala daerah, sebagai otoritas pemberi ijin usaha perkebunan dan atau usaha pertambangan, dan juga sebagai pengelola wilayah untuk memikirkan hal demikian.

Penulis : Pencil Ally 



Sabtu, 28 Februari 2015

Brian Tracy

"Bangunlah sikap syukur dan syukurilah
atas segala sesuatu yang terjadi pada
diri Anda, melangkah ke depan untuk
menerima sesuatu yang lebih besar dan
lebih baik dari situasi Anda sekarang"
- Brian Tracy


  













Mark Twain



Jauhi orang-orang yang mencoba
mengecilkan ambisi Anda. Orang kecil
selalu melakukannya, tetapi orang
yang benar-benar besar membuat Anda
percaya bahwa Anda juga dapat menjadi
besar" - Mark Twain

Tetap Fokus Pada Satu Keahlian



Masih ingatkah Anda percobaan
membakar sebuah kertas dengan kaca
pembesar ketika masih sekolah dulu?
Kertas itu terbakar setelah kaca
pembesar berhasil memfokuskan sinar
matahari pada satu titik.

Kita pun demikian!
Manusia sebenarnya diciptakan Tuhan
dengan potensi yang tidak terbatas.
Tapi kenyataannya, sedikit saja orang
yang berusaha mencapainya. Kita
memang dapat melakukan apa saja,
tetapi kita tidak selalu dapat
mengerjakan semua.

Membiarkan orang lain memutuskan
agenda Suarli dalam hidup ini, membuat
Suarli tidak  fokus pada tujuan hidup.
Suarli mungkin bisa menjadi orang yang
mengerjakan banyak hal, tetapi tidak
dapat menguasai sepenuhnya.

Sebaiknya hindari menjadi orang yang
mampu mengerjakan beberapa pekerjaan,
tetapi fokuslah pada satu keahlian. 

Penulis : anne

Tony Robbins



"Salah satu alasan begitu sedikit
orang yang meraih apa yang
diinginkannya adalah karena kita
tidak pernah fokus; kita tidak pernah
konsentrasi pada kekuatan kita.
Kebanyakan orang hanya mencoba-coba
berbagai macam jalan dalam hidup
mereka. Mereka tidak pernah
memutuskan untuk menguasai suatu
bidang khusus" -  Tony Robbins