Perkenalkan Nama ku Piango, dan ketiga teman ku Azis, Yanto dan Nabire. Di salah satu perempatan jalan, kami 4 sekawan ini karna sedang hujan memilih berteduh dibawah pohon disudut jalan. Sambil nyeruput kopi yang dibawa Nabire dengan tumblernya serasa dunia tak ada artinya bagi kami.
Untuk mengisi kekosongan, nyeletuk ku bertanya kepada Nabire yang kebetulan orang papua. “Nabire, bagaimana pandangan mu tentang tanah di kampung mu disana?”, “ menurut kami, Tanah bukan hanya sekedar ruang fisik tempat manusia berpijak, tetapi juga ruang makna yang menyatukan sejarah, budaya, dan spiritualitas manusia dengan alam. Dalam konteks historis dan filosofis, tanah menjadi sumber kehidupan, sumber pengetahuan, dan sumber makna yang membentuk identitas kolektif. Kami hidup dalam kesadaran ekologis yang menempatkan tanah bukan sekadar aset ekonomi, tetapi warisan leluhur yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Melalui sistem adat, ritual pertanian, dan praktik gotong royong, kami menjaga keterhubungan antara manusia, tanah, dan kehidupan sosial secara berkelanjutan”. Jawab Nabire tegas.
Mendengar pernyataan Nabire yang begitu detile menjelaskan pertanyaan dari ku, tiba-tiba Aziz menggumal dari belakang kami, “Namun, paradigma pembangunan modern yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi mulai menyingkirkan pandangan tersebut. Negara bahkan mulai mempertontonkan kebijakan-kebijakan yang sedang menuju kesana. Eksploitasi sumber daya alam secara massif atas nama investasi, industrialisasi, dan globalisasi mulai menggeser relasi harmonis manusia dengan alam menuju relasi dominatif dan eksploitatif. Alam dilihat semata-mata sebagai komoditas ekonomi, bukan sebagai penopang kehidupan. Pola pikir ini merupakan bentuk internalisasi paradigma kapitalistik global yang sesungguhnya menguntungkan kepentingan elit dan asing melalui penguasaan sumber daya lokal, baik dalam bentuk ekstraksi tambang, privatisasi air, maupun monopoli lahan”.
Ku kira Yanto hanya ingin mendengar kali ini, rupanya perkiraan ku salah. Tidak tahan, dia juga ingin menambahkan, “Kecenderungan tersebut memperlihatkan gejala ecological imperialism, di mana penguasaan alam menjadi instrumen kontrol sosial, politik, dan ekonomi. Masyarakat lokal kehilangan ruang hidup, kedaulatan ekologis, serta hak untuk menentukan nasib atas tanah yang menjadi bagian dari identitas mereka. Ketika sumber daya alam dikuasai oleh mekanisme pasar dan kepentingan modal transaksional, maka yang hilang bukan hanya kekayaan ekologis, tetapi juga kedaulatan budaya dan keberlanjutan peradaban bangsa”.
“ Oleh karena itu, Reforma Agraria Sejati harus berangkat dari kesadaran politik bahwa kedaulatan atas tanah adalah kedaulatan atas kehidupan itu sendiri. Ia bukan sekadar kebijakan teknokratis, tetapi gerakan pembebasan struktural dari cengkeraman kapitalisme agraria. Pendekatan yang menempatkan tanah sebagai identitas bangsa membuka jalan bagi model pembangunan yang berkeadilan sosial, ekologis, dan berdaulat. Dengan demikian, perjuangan reforma agraria tidak boleh berhenti pada tataran legal-formal, melainkan harus diwujudkan dalam praksis yang menegakkan hak rakyat atas ruang hidupnya agar bangsa ini tidak menjadi penonton di tanahnya sendiri”, Tutup Yanto dengan sambil mengangkat tangan besarnya ke bahu kami, untuk mengingatka kami bahwa hujan sudah mulai reda.
Sebelum kami melanjutkan perjalanan, pikiran ku tergelitik dengan pesan guru ku beberapa waktu yang lalu , beliau mengingatkan, bahwa Reforma agraria di negeri ini terus mengalami kegagalan karena paradigma yang digunakan masih keliru. Dalam kebijakan negara, makna tanah selalu dipisahkan dari manusia, seolah keduanya adalah entitas yang berbeda. Akibatnya, tanah hanya dipandang dari sisi ekonomi semata. Karena urusan ekonomi dijadikan hal yang paling dominan, penguasaan tanah akhirnya jatuh ke tangan mereka yang memiliki akses ekonomi besar dan dekat dengan kekuasaan. Selama paradigma ini tidak diubah, reforma agraria sejati tidak akan pernah berhasil dan hanya digunakan sebagai narasi kampanye di setiap musim pemilu datang.
Kami Bersiap melanjutkan perjalanan ke salah satu kampung, dimana kampung tersebut sedang benkoflik dengan salah satu perusahaan Perkebunan sawit.
